Rabu, 25 Januari 2012

media lagu "kasih ibu" pada pembelajaran menulis puisi


A.      Judul Penelitian
            Judul penelitian ini adalah “Penerapan Media Lagu Ost Hafalan Surat Delisa “Kasih Ibu” dari Rafly Kande dalam Pembelajaran Menulis Puisi (Penelitian Eksperimen Semu terhadap Kemampuan Menulis Puisi Siswa Kelas VIII SMPN 10 Bandung Tahun Ajaran 2011/2012)”.

B.       Latar Belakang Masalah
Keterampilan berbahasa mencakup empat aspek penting, yaitu (1) keterampilan mendengarkan (listening skills), (2) keterampilan berbicara (speaking skills), (3) keterampilan membaca (reading skills), dan (4) keterampilan menulis (writing skills). Keempat keterampilan tersebut saling berkaitan, tidak dapat dipisahkan. Menulis merupakan satu diantara empat keterampilan yang tidak terpisahkan dalam seluruh proses pembelajaran di sekolah.
Pembelajaran keterampilan menulis memiliki berbagai macam bentuk. Salah satunya adalah menulis puisi. Mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam puisi bebas merupakan Standar Kompetensi dalam menulis untuk siswa SMP dan MTs. Standar Kompetensi tersebut ada pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VIII Semester 2 dengan Kompetensi Dasar menulis puisi bebas dengan menggunakan pilihan kata yang sesuai. Berangkat dari hal tersebut, kita mengetahui keterampilan menulis puisi merupakan pembelajaran yang harus dikuasai siswa. Dalam pembelajaran menulis puisi, siswa tidak hanya dapat mengembangkan kemampuan membuat puisi, tetapi juga mencermati pemilihan diksi, dan memiliki kemampuan untuk menuangkan ide atau gagasan dengan cara membuat puisi yang menarik untuk dibaca.
Keterampilan menulis merupakan salah satu aspek penting dalam proses komunikasi (Tarigan, 1994: 19), karena dengan menulis kita bisa menyampaikan ide-ide atau perasaan kita yang dapat kita tuangkan ke dalam tulisan. Melalui menulis, kita dapat mengekspresikan berbagai macam ekspresi yang kita rasakan seperti perasaan senang, sedih, kecewa, putus asa, menyerah atau yang lainnya. Menulis merupakan suatu representasi bagian dari kesatuan-kesatuan ekspresi bahasa (Tarigan, 1994: 21). Namun, mengungkapkan perasaan yang dirasakan lewat tulisan tidaklah semudah membalikan telapak tangan.
Abercrombie (2008: 157) menyatakan bahwa rasa takut musuh nomor satu dalam menulis. Lebih lanjut Abercrombie (2008: 157) menyatakan bahwa rasa takut dapat melumpuhkan kita sehingga kita hanya bisa memandangi kertas kosong atau layar komputer saja. Ini memperkuat bahwa menulis tidak semudah yang kita bayangkan, dengan adanya ide untuk menulis namun ketika dituangkan ke dalam secarik kertas terkadang kita menemukan kesulitan. Adanya perasaan takut salah, takut kurang enak ketika diperdengarkan kepada orang lain, bahasa yang monoton menjadi sebab seseorang takut untuk memulai menulis. Alwasilah (2005: 42) juga mengungkapkan sebagai berikut:
Menulis tidak sesederhana dan semudah membalikan telapak tangan. Menulis tidak hanya menuangkan kata-kata atau ucapan belaka. Artinya, tulisan tidak sama dengan ujaran. Tulisan melibatkan kerja keras.

Keterampilan menulis  merupakan  kemampuan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan memakai bahasa tulisan yang baik sesuai kaidah kebahasaan. Selain itu, menulis harus dilakukan secara efektif dan efisien, mengingat menulis merupakan kegiatan produktif dan ekspresif.
Sekait dengan menulis sebagai salah satu aspek berbahasa dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMP dan MTs, siswa dituntut untuk mampu mengorganisasikan pemikiran, ide, dan perasaannya dalam berbagai bentuk tulisan baik sastra maupun non sastra. Salah satu tulisan dalam ranah sastra adalah puisi.
Menulis puisi adalah kegiatan menulis yang bersumber dari pengalaman maupun imajinasi yang penuh makna dan bernilai seni. Puisi itu karya estetis yang bermakna, yang mempunyai arti, bukan hanya sesuatu yang kosong tanpa makna (Pradopo, 2009:3). Lebih lanjut Pradopo (2009: 7) menyatakan bahwa puisi merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan.
Penelitian tentang menulis puisi banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Penelitian itu di antaranya oleh Megasari (2011) dengan judul “Penerapan Metode Waking Hypnosis dalam Pembelajaran Menulis Puisi (Eksperimen Kuasi pada Siswa Kelas VII SMPN 44 Bandung Tahun Ajaran 2010/2011)”. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa metode waking hypnosis efektif diterapkan dalam pembelajaran puisi.
Penelitian yang sejenis juga dilakukan oleh Sartika (2010) dengan judul “Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi dengan Teknik Akrostik pada Siswa Kelas X SMA Negeri 3 Cimahi Tahun Ajaran 2009/2010”. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa penggunaan teknik akrostik dalam pembelajaran puisi mampu mengarahkan siswa dalam kegiatan menulis puisi dan mampu mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran menulis.
Kemudian Sangadji (2011) pun mengadakan penelitian dengan judul “Penggunaan Media Video dalam Pembelajaran Menulis Puisi (Penelitian Eksperimen Semu terhadap Siswa Kelas VII SMPN 44 Bandung Tahun Ajaran 2010/2011)”. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penggunaan media video dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi siswa.
Penelitian-penelitian di atas dilakukan semata-mata karena adanya permasalahan pembelajaran khususnya kendala dalam menulis puisi. Oleh karena itu, penelitian-penelitian tersebut menyatakan bahwa pembelajaran yang dilakukan oleh guru selama ini dinilai kurang kreatif. Rendahnya kemampuan menulis puisi disebabkan oleh pembelajaran yang diciptakan dinilai kurang efektif, baik dalam hal metode-metode pengajarannya, strategi yang kurang tepat untuk diberikan kepada siswa, maupun teknik-teknik pembelajaran yang dinilai kurang kreatif dan membosankan. 
Sangadji (2011) memaparkan bahwa ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan pembelajaran menulis puisi tidak lagi bersifat aktif dan produktif.
Faktor yang dapat menyebabkan pembelajaran menulis puisi tidak lagi bersifat aktif dan produktif di antaranya: (1) tidak semua guru bahasa memiliki kegemaran terhadap menulis puisi, (2) mengajarkan menulis puisi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan bahasa, tetapi juga berhubungan dengan penggalian bahasa, norma, dan nilai-nilai estetika, dan (3) sikap berpikir inovatif dan kreatif yang belum tumbuh pada guru sebagai upaya mengembangkan diri.

Beberapa faktor permasalahan di atas, timbul keinginan peneliti untuk menerapkan media lagu dalam pembelajaran menulis puisi. Penelitian ini menitikberatkan media lagu “Ibu” dalam pembelajaran menulis puisi karena penggunaan media lagu dalam pembelajaran mampu menciptakan suasana yang menyenangkan, membuat pembelajaran menjadi lebih santai, dan pembelajaran akan lebih mudah dipahami oleh siswa.
Penggunaan lagu merupakan salah satu dari pemanfaatan media pembelajaran. Hamalik (1986 dalam Arsyad, 2010: 15) mengemukakan sebagai berikut:
Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.

Penelitian dengan menggunakan media lagu juga pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya dalam pembelajaran menulis puisi oleh Suseno (2010) dan Meliyani (2009). Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa penggunaan media lagu mampu meningkatkan kemampuan menulis puisi. Namun, peneliti ingin mengujicobakan kembali media lagu ini dalam meningkatkan kemampuan menulis puisi.
Dari penelitian-penelitian yang sudah dilakukan, peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media lagu dalam pembelajaran menulis puisi dapat memberikan hasil yang baik. Media lagu digunakan sebagai inspirasi untuk memudahkan siswa mengungkapkan perasaannya dalam bentuk puisi. Selain itu lagu hampir sama dengan puisi, keduanya harus memperhatikan pemilihan kata yang sesuai, mempunyai nilai seni yang dapat mengasah kreativitas.
Adapun perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya adalah penelitian ini memfokuskan pada penggunaan media lagu dan objek yang berbeda, yaitu lagu “Ibu” yang dinyayikan Rafly dalam ost Hafalan Surat Delisa dalam pembelajaran menulis puisi dan objek penelitian adalah siswa kelas VIII A SMP N 10 Bandung. Lagu ini dipilih karena memiliki lirik yang sangat bagus, pada liriknya menceritakan bagaimana perjuangan ibu dalam mengasuh dan mendidik kita, lirik lagu ibu ini merupakan salah satu lagu yang terdapat pada film ekranisasi hafalan surat delisa yang dinyanyikan Rafly penyanyi dari Aceh. Penelitian ini juga siswa tidak hanya diperdengarkan lagu “Ibu” saja, melainkan dengan media audio visual. Selain mendengarkan lirik lagunya, siswa juga akan melihat foto-foto tentang ibu. Oleh karena itu, peneliti mencoba melakukan penelitian dengan judul ““Penerapan Media Lagu Ost Hafalan Surat Delisa “Kasih Ibu” dari Rafli Kande dalam Pembelajaran Menulis Puisi (Penelitian Eksperimen Semu terhadap Kemampuan Menulis Puisi Siswa Kelas VIII SMPN 10 Bandung Tahun Ajaran 2011/2012)”.

C.      Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti dapat mengidentifikasikan masalah sebagai berikut.
1.        Pembelajaran menulis puisi dianggap sebagai pembelajaran yang sulit bagi sebagian siswa dan siswa takut untuk memulai menulis.
2.        Pembelajaran menulis puisi hendaknya menggunakan metode atau media yang tepat agar siswa lebih mudah untuk menulis puisi.
3.        Siswa merasa jenuh dan bosan jika pembelajaran kurang kreatif sehingga siswa merasa kesulitan dalam menuangkan ide atau gagasan yang harus dituangkan dalam puisi.

D.      Pembatasan Masalah
Setelah mengidentifikasikan permasalahan yang ada, peneliti akan membatasi masalah-masalah tersebut. Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini hanya difokuskan pada pengaruh penggunaan media lagu terhadap kemampuan menulis puisi siswa SMP kelas VIII Semester II.

E.       Perumusan Masalah
Dalam penelitian ini, peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut.
1.        Bagaimanakah kemampuan siswa kelas VIII dalam menulis puisi sebelum diterapkan media lagu?
2.        Bagaimanakah kemampuan siswa kelas VIII dalam menulis puisi sesudah diterapkan media lagu?
3.        Adakah perbedaan yang signifikan pada siswa kelas VIII dalam menulis puisi antara sebelum dan sesudah diterapkan media lagu?

F.       Tujuan Penelitian
Dengan diadakannya penelitian ini, peneliti ingin mengetahui hal-hal berikut:
1.        kemampuan menulis puisi siswa kelas VIII sebelum diterapkan media lagu,
2.        kemampuan menulis puisi siswa kelas VIII sesudah diterapkan media lagu, dan
3.        perbedaan yang berarti pada siswa kelas VIII dalam menulis puisi antara sebelum dan sesudah diterapkan media lagu.

G.      Manfaat Penelitian
Adapaun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagi guru, hasil penelitian ini diharapkan dapat menerapkan media lagu dalam pembelajaran menulis puisi.
2.      Bagi siswa, hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi.
3.      Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan menulis puisi setelah menggunakan media lagu dalam pembelajaran menulis puisi.

H.      Landasan Teoretis
Beberapa teori yang melandasi penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.        Menulis
Menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif sehingga dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak dengan bertatap muka dengan orang lain (Tarigan, 1994). Karena keterampilan menulis merupakan keterampilan yang tidak datang dengan sendirinya, penulis harus dapat memanfaatkan struktur bahasa dan kosakata yang baik serta aspek linguistik lainnya. Oleh karena itu, diperlukan latihan dan praktik yang banyak dan teratur agar menjadi seorang penulis. Sehubungan dengan ini, Tarigan (1994:8) mengungkapkan sebagai berikut:
Menulis, seperti juga halnya keterampilan berbahasa lainnya, merupakan suatu proses perkembangan. Menulis menuntut pengalaman, waktu, kesempatan, latihan, keterampilan-keterampilan khusus, dan pengajaran langsung menjadi seorang penulis. Menuntut gagasan-gagasan yang tersusun secara logis, diekspresikan dengan jelas, dan ditata secara menarik.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk menjadi penulis membutuhkan keterampilan, pengalaman, kesempatan, waktu, latihan, dan katerampilan-keterampilan khusus yang lainnya, karena bila kita sudah terampil dalam menulis kita termasuk ciri orang atau bangsa yang terpelajar.

2.        Puisi
2.1    Pengertian puisi
Terdapat beberapa definisi mengenai puisi dari para ahli.
1)        Altenbernd (dalam Pradopo: 2009) puisi adalah pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran (menafsirkan) dalam bahasa berirama (bermetrum)
2)        Shanon Ahmad (dalam Pradopo, 2009:6) mengumpulkan definisi-definisi puisi yaitu:
(a) Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi sebagai kata-kata yang terindah dalam susunan terindah, (b) Carlyle berkata, puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal, (c) Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan, (d) Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur, (e) Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama, dan (f) Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup kita.

Dari beberapa pengertian puisi menurut para ahli diatas, terlihat adanya perbedaan pikiran mengenai pengertian puisi. Namun, perbedaan unsur-unsur tersebut dapat dipadukan sehingga akan didapati pengertian puisi yang sebenarnya. Unsur-unsur tersebut berupa emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata-kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur. Jadi, puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan yang merangsang imajinasi pancaindera dalam susunan yang berirama (Pradopo, 2009:7).

2.2    Unsur-unsur Pembentuk Puisi
1)        Struktur fisik, meliputi: diksi (pilihan kata), pengimajinasian (imagery/citraan), kata konkret (penyebab terjadinya imaji), majas (bahasa figuratif), verifikasi (rima, ritma dan metrum), dan tipografi (tata wajah puisi).
2)        Struktur batin, meliputi: tema, perasaan, amanat, serta nada dan suasana.

3.      Media Pembelajaran
3.1 Pengertian Media Pembelajaran
       Arsyad (2010: 3), media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’ atau ‘pengantar’, yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.
Beberapa ahli memberikan definisi mengenai media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.

2.1  Fungsi dan Manfaat Media Pembelajaran
Arsyad (2010: 25) memberikan simpulan beberapa manfaat dari penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar sebagai berikut:
1.        Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.
2.        Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
3.        Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu.
4.        Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru, masyarakat, dan lingkungan misalnya melalui karyawisata, kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang.
3.3 Ciri-ciri Media Pembelajaran
Gerlach dan Ely (dalam Arsyad, 2010:12-14) mengemukakan tiga ciri media, yaitu (1) ciri fiksatif, ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek; (2) ciri manipulatif, ciri ini memberikan kesan manipulasi terhadap suatu kejadian yang membutuhkan waktu yang lama dalam proses kejadiannya sehingga siswa tetap mampu mengikuti segala proses peristiwa tersebut tanpa mengesampingkan esensi yang ada di dalamnya. Kejadian-kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik gambar time-lapse recording; dan (3) ciri distributif, ciri ini memungkinkan suatu objek atau kejadian ditransportasikan melalui ruang dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama dengan kejadian itu.
3.4  Penggunaan Media Lagu dalam Menulis Puisi
Lagu adalah ragam suara yg berirama (dalam bercakap, bernyanyi, membaca, dan sebagainya); nyanyian;  ragam nyanyi (KBBI, 2008: 771)


I.         Anggapan Dasar
Adapun anggapan dasar dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.        Pembelajaran menulis puisi merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa SMP kelas VIII.
2.        Pembelajaran menulis puisi harus dilakukan dengan total dan sungguh-sungguh sesuai dengan tujuan pembelajaran.
3.        Penggunaan media yang tepat menjadi faktor penentu keberhasilan pembelajaran menulis puisi khusunya.

J.        Hipotesis
Hipotesis awal yang  diajukan dalam penelitian ini adalah:
H0= tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kemampuan menulis puisi siswa setelah diterapkan media lagu.
H1= terdapat perbedaan yang signifikan pada kemampuan menulis puisi siswa setelah diterapkan media lagu.

K.      Definisi Operasional
Agar tidak menimbulkan kesalahan pemahaman dalam penelitian ini, peneliti perlu mendefinisikan beberapa konsep kunci dalam penelitian ini. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut.
1.        Pembelajaran menulis puisi adalah proses pembelajaran yang bersumber dari pengalaman maupun imajinasi yang penuh makna dan bernilai seni.
2.        Media lagu adalah bagian dari media pembelajaran audio dengan cara mengemas dan menyajikan media tersebut berupa lagu/mendengarkan lagu.
3.        Lagu “Ibu” adalah salah satu lagu yang ada dalam film Hafalan Surat Delisa yang dinyanyikan oleh Rafly Kande penyannyi asal Aceh.
4.        Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata imajinatif dan kaya akan makna serta bernilai seni dengan cara mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan kemudian mengubahnya dalam wujud yang paling berkesan.

L.       Metodologi Penelitian
Pada bagian ini akan dijelaskan metode penelitian, teknik dan instrumen penelitian, serta sumber data yang digunakan dalam penelitian. Penjelasan tersebut adalah sebagai berikut.
1.        Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen kuasi/pre-experimental design. Dikatakan pre-experimental design karena desain ini belum merupakan eksperimen sungguh-sungguh, karena masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen. Jadi hasil eksperimen yang merupakan variabel dependen itu bukan semata-mata dipengaruhi oleh variabel independen. Hal ini dapat terjadi, karena tidak adanya variabel kontrol, dan sampel tidak dipilih secara random. Adapaun desain pada penelitian ini adalah one-group pretest-posttest design. Pola penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
E          : O1      X         O2

Sugiyono, 2011: 74-75
Keterangan:
E          : Kelompok kelas eksperimen
O1        : Tes awal kelas eksperimen
O2        : Tes akhir kelas eksperimen
X         : Perlakuan pembelajaran yang dilakukan pada kelas eksperimen dengan media lagu


2.        Teknik Penelitian
Teknik dalam penelitian ini mencakup teknik pengumpulan data dan teknik pengolahan data. Penjelasan mengenai kedua cakupan tersebut adalah sebagai berikut.
a.        Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi tes dan nontes. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
1)        Tes
Tes digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam aspek kognitif atau penguasaan materi pembelajaran setelah diberikan penjelasan materi pelajaran oleh guru.
Instrumen tes yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes kemampuan dengan format tes uraian bebas. Tes ini dilakukan pada pretes dan posttest pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Tes ini dilakukan untuk mengetahui dan mengukur nilai rata-rata siswa dalam menulis puisi sebelum dan sesudah penerapan media lagu pada kelas eksperimen.
2)      Nontes
Instrumen nontes yang digunakan dalam penelitian ini berupa lembar observasi dan daftar tanya melalui teknik angket. Observasi adalah skala penilaian yang akan diisi oleh pengamat pada saat penelitian berlangsung. Observasi digunakan untuk mengamati kegiatan pembelajaran dikelas. Objek yang diamati adalah aktivitas guru dalam menyampaikan materi pembelajaran menulis puisi dengan media lagu. Selain itu, observasi dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh media lagu terhadap kemampuan menulis puisi siswa. Instrumen nontes lainnya berupa berupa daftar tanya dalam bentuk angket. Instrumen ini digunakan untuk memperoleh informasi dari responden mengenai pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan media lagu.

b.        Teknik Pengolahan Data
Setelah data terkumpul melalui tes awal dan tes akhir, langkah selanjutnya adalah pengolahan data dan menganalisis data tersebut dengan menggunakan rumus statistik. Adapun langkah-langkah pengolahan data adalah sebagai berikut.
1.        Menilai dan menganalisis data tes awal dan tes akhir. Langkah-langkah analisis datanya adalah sebagai berikut.
a)      Menganalisis hasil tulisan siswa.
b)      Menentukan skor tes awal dan tes akhir, kemudian menentukan nilai dengan rumus:
Nilai skor =  x 100
c)      Mendeskripsikan hasil tes awal dan tes akhir.
2.        Melakukan uji reliabilitas antarpenimbang tes awal dan tes akhir untuk mengetahui tingkat korelasi antarpenimbang dengan menggunakan rumus berikut.
R11=
Keterangan:
R= reliabilitas
Vt= varians testi
Vkk= variansi kekeliruan
3.        Melakukan uji normalitas nilai menulis puisi siswa hasil tes awal dan tes akhir. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah data yang terkumpul tersebar secara normal atau tidak. Hal ini berkaitan dengan sampel yang diambil. Melalui Uji normalitas peneliti bisa mengetahui apakah sampel yang diambil mewakili populasi ataukah tidak. Untuk mengetahui distribusi skor pretest-posttest terdistibusi normal atau tidak dapat diketahui dengan menggunakan rumus chi kuadrat (χ2), langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1)        Menentukan rentang (r), dengan rumus:
r = skor maksimum – skor minimum
2)        Menentukan banyaknya kelas interval (k) :
k = 1 + 3,3 log N
3)        Menentukan panjang kelas interval (p):
4)        Menentukan tabel distribusi frekuensi.
5)        Menentukan batas kelas interval untuk menghitung luas di bawah kurva normal.
6)        Menghitung rata-rata hitung.
7)        Menentukan standar deviasi, dengan menggunakan rumus:
8)        Menghitung z-score, dengan rumus:
9)        Menentukan luas di bawah kurva normal (l).
10)    Menentukan frekuensi yang diharapkan (Ei), dengan Ei = N l
11)    Membuat daftar frekuensi pengamatan (Oi)
12)    Menghitung nilai chi kuadrat (), dengan
13)    Bandingkanlah nilai hitung dengan tabel pada derajat kebebasan, dan taraf kepercayaan 95% Apabila  hitung <  tabel, maka skor tes awal dan tes akhir terdistribusi normal.
4.        Melakukan uji homogenitas. Digunakan untuk menguji homogenitas variansi populasi sampel. Untuk menguji apakah varians tes awal (m1) = varians tes akhir (m2), secara signifikan pada taraf kepercayaan 95%, dapat dilakukan dengan menggunakan rumus: F
Keterangan:
F hitung = nilai yang dicari
     Vb     = varian terbesar
     Vk     = varian terkecil
Apabila Fhitung < Ftabel, maka dapat dikatakan variansi homogen Apabila Fhitung > Ftabel, maka variansi tidak homogen.
(Subana dkk, 2005)
5.        Melakukan uji hipotesis. Setelah melakukan uji normalitas dan uji homogenitas, maka dapat ditentukan uji hipotesis yang akan digunakan. Apabila skor tes awal dan tes akhir berdistribusi normal dan homogen, maka untuk menguji hipotesis digunakan statistik parametrik dengan uji–t. Dalam melakukan uji hipotesis diperlukan langkah-langkah berikut.
1)        Mencari deviasi standar gabungan (dsg)
Rumusnya:
Keterangan:
n1=banyaknya data kelompok 1
n2= banyaknya data kelompok 2
V1= varians data kelompok 1
V2= varians data kelompok 2
2)        Menentukan t hitung
Dengan:
= rata-rata data kelompok 1
= rata-rata data kelompok 2
3)        Menentukan derajat kebebasan (db)
Rumus: db = n1+n2-2
4)        Menentukan ttabel
Untuk hipotesis dua ekor, ttabel =  α (db)                                 
Jika thitung < ttabel maka H1 ditolak atau H0 diterima, dan begitu pula sebaliknya apabila thitung > ttabel maka H1 diterima atau H0 ditolak.
(Subana dkk, 2005: 171-172)
6.        Mengolah data yang diperoleh dari hasil pengamatan observer lalu mengolahnya. Rumus untuk menghitung skor aktivitas guru adalah sebagai berikut.
S = 

Keterangan:
S          = nilai dari setiap observer
O         = jumlah nilai aspek yang diperoleh
JA        = jumlah seluruh aspek

Setelah mendapat skor dari setiap observer, peneliti menghitung skor total dari seluruh observer dengan rumus berikut.
St =
Keterangan:
St = skor total
S1 = skor dari pengamat 1
S2 = skor dari pengamat 2

Berikut penafsiran skor total aktivitas guru
4,00-3,50         = Sangat baik
3,49-3,00         = Baik
2,99-2,50         = Cukup
< 2,50              = Kurang
7.        Kemudian pengolahan data hasil observasi
Data mengenai proses pembelajaran dapat dianalisis dengan cara mendeskripsikan perhitungan skor dari setiap kategori yang diberikan oleh observer (Subana dan Sudrajat, 2008).
Observasi dilakukan untuk menilai aktivitas siswa selama proses pembelajaran menulis puisi dengan media lagu berlangsung. Penilaian dilakukan oleh observer dan cara menghitung rata-rata hasil ketiga observer yakni dengan rumus:
R =
8.        Untuk menghitung presentase angket
P =  
Keterangan:
p = presentase
fo = frekuensi responden yang menjawab pilihan setiap pertanyaan
N  = jumlah responden

Menafsirkan hasil angket dengan berpedoman pada data sebagai berikut:

0%                   = tidak ada seorangpun
1% - 5%          = hampir tidak ada
6% - 25%        = sebagian kecil
26% - 49%      = hampir setengahnya
50%                 = setengahnya
51% - 75%      = lebih dari setengahnya
76% - 95%      = sebagian besar
96% - 99%      = hampir seluruhnya
100%               = seluruhnya
( Sudjiono, 2004 dalam Adepartina 2011: 60)

c.         Sumber Data
Sumber data di dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh (Arikunto, 2010: 172). Sumber data dalam penelitian ini adalah populasi dan sampel. Penjelasan mengenai keduanya adalah sebagai berikut.
1.        Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP kelas VIII SMPN 10 Bandung.
2.        Sampel
Pada penelitan ini, peneliti menggunakan sampel secara acak (random sampling) sehingga peneliti menentukan siswa SMP kelas VIII-A sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII-D sebagai kelas kontrol di SMPN 10 Bandung.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar