Minggu, 01 Januari 2012

makalah pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Surat kabar merupakan salah satu media massa yang menggunakan bahasa tulisan sebagai alat utamanya. Informasi yang diperoleh melalui berbagai surat kabar memegang peranan penting dalam membentuk sikap mental masyarakat agar dapat berperan secara aktif dalam pelaksanaan pembangunan. Peran surat kabar tidak dapat disangkal telah memberikan andil bagi pembinaan dan pengembangan Bahasa Indonesia. Bahkan pembentukan dan pemakaian istilah baru serta pemasyarakatannya seringkali banyak dipengaruhi juga oleh surat kabar. Andaikan semua media massa surat kabar menggunakan Bahasa Indonesia baku yaitu bahasa jurnalistik yang memenuhi kaidah Bahasa Indonesia terutama ragam tulis menjadi kenyataan, niscaya media akan berperan sebagai guru bahasa.
Namun harapan untuk menjadikan media sebagai guru bahasa sepertinya kita harus menunggu waktu yang cukup lama, karena dewasa ini muncul kecenderungan dari media surat kabar untuk bersikap negatif terhadap bahasa Indonesia. Hal ini terlihat dari aktivitas kebahasaan yang ada. Mereka seakan lebih bangga menggunakan bahasa asing daripada menggunakan Bahasa Indonesia walaupun sebenarnya situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan. Apabila bahasa yang dipergunakan dalam surat kabar tersebut dikritik dan disalahkan, mereka berkilah bahwa gaya bahasa jurnalistik berbeda dengan kaidah Bahasa Indonesia, walaupun sebenarnya gaya bahasa jurnalistik dalam penggunaan Bahasa Indonesia sangat berbeda konteks. Akibatnya peran surat kabar sebagai salah satu guru Bahasa Indonesia yang baik dan benar bagi masyarakat menjadi sulit terwujud, karena kesalahan-kesalahan yang seharusnya tidak boleh terjadi justru diakomodir pada sejumlah tulisan yang termuat di dalam surat kabar.
Berpijak dari pemikiran di atas, untuk mengetahui ragam bentuk kesalahan pemakaian bahasa Indonesia yang seringkali terjadi di media surat kabar maka Kami mencoba untuk menyusun sebuah makalah yang berjudul : “ANALISIS PEMAKAIAN BAHASA INDONESIA DALAM RUBRIK OLAHRAGA PADA SURAT KABAR PIKIRAN RAKYAT DAN KOMPAS”, dengan objek penelitian adalah dua surat kabar nasional, yaitu Pikiran Rakyat dan Kompas. Penulisan ini diharapkan dapat menjadi sebuah referensi yang bermanfaat bagi segenap pihak yang membutuhkannya.

1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah bentuk-bentuk kesalahan penggunaan Bahasa Indonesia yang terdapat dalam Rubrik Olahraga pada surat kabar Pikiran Rakyat dan Kompas?
2. Apa saja contoh kesalahan bahasa yang terdapat dalam Rubrik Olagraga pada surat kabar Pikiran Rakyat dan Kompas?

1.3 Tujuan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang dikemukakan tujuan dari penulisan ini yaitu:
1. Untuk mengetahui bentuk-bentuk kesalahan Bahasa Indonesia yang terdapat dalam Rubrik Olahraga pada surat kabar Pikiran Rakyat dan Kompas.
2. Untuk mengetahui contoh kesalahan bahasa yang terdapat dalam Rubrik Olahraga pada surat kabar Pikiran Rakyat dan Kompas.

1.4 Manfaat
Manfaat yang penulis harapkan dapat diambil dari analisis ini adalah analisis ini diharapkan dapat memberi kontribusi dalam pengembangaan ilmu pengetahuan. Penulis berharap, dari analisis ini kita bisa membantu menyadarkan pentingnya penggunaan bahasa yang benar dalam media massa. Karena media massa merupakan salah satu alat penting dalam perkembangan bahasa Indonesia.



BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Bahasa
Bahasa merupakan sarana komunikasi manusia yang utama. Agar komunikasi dapat berjalan dengan lancar, para pemakai bahasa harus menggunakan bahasa itu sedemikian rupa sehingga diantara pemakai bahasa terdapat pengertian yang sama. Ada beberapa pendapat mengenai pengertian bahasa, Finocchiaro (1946:8) mendefinisikan bahasa adalah sistem simbol vokal yang memungkinkan semua orang dalam suatu kebudayaan tertentu, atau orang lain yang mempelajari sistem kebudayaan itu, berkomunikasi atau berinteraksi. Sementara itu, Kridalaksana berpendapat bahwa bahasa dalam sistem lambang bunyi yang arbitrar yang dipergunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidantifikasi diri. Sedangkan dalam KBBI (2003:67), menyebutkan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri, percakapan (perkataan yang baik, sopan santun).

2.2 Media Massa Cetak
Media massa cetak merupakan sumber informasi yang disajikan kepada masyarakat dalam bentuk teks. Menurut Tholson (2006 : 9), terdapat tiga unsur yang harus diperhatikan dalam membuat teks tersebut, diantaranya : interactivity, performativity, dan liveliness. Interactivity berarti penulis teks dituntut untuk memilih kata yang sesuai sehingga terjalin hubungan antara penulis dan pembaca dalam rangka penyempaian makna. Performativity berarti penulisan teks harus memperhatikan penampilan bahasa yang disampaikan, sehingga menarik orang yang membacanya. Liveliness berarti pilihan kata harus dapat menghidupkan suasana yang ditandai adanya respon dari pembaca. Tentunya menyajikan berita dalam bentuk teks memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi daripada melalui media elektronik. Penulis harus benar-benar lihai dalam memilih kata yang ekspresif, sehingga apa yang disampaikan benar-benar dapat diterima sepenuhnya.
Media massa cetak mempunyai kemampuan untuk berperan sebagai lembaga yang dapat mempengaruhi publik. Ini memungkinkan media massa cetak memiliki kepribadian ganda. Pertama, memberikan dampak positif kepada publik. Kedua, memberikan dampak negatif. Bahkan, media yang memiliki peranan sebagai alat untuk menyampaikan informasi dipandang sebagai faktor yang paling menentukan dalam proses perubahan sosial-budaya dan politik.

2.3 Pengertian Kesalahan Berbahasa
Dalam buku “Common Error in Language Learning”, H.V. George mengemukakan bahwa kesalahan berbahasa adalah pemakaian bentuk-bentuk tuturan yang tidak diinginkan oleh penyusun program dan guru pengajaran bahasa. Bentuk-bentuk tuturan yang tidak diinginkan adalah bentuk-bentuk tuturan yang menyimpang dari kaidah bahasa baku.
S. Piet Corder dalam buku “Introducing Applied Linguistics” mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan kesalahan berbahasa adalah pelanggaran terhadap kode berbahasa. Pelanggaran ini bukan hanya bersifat fisik, melainkan juga merupakan tanda kurang sempurnanya pengetahuan dan penguasaan terhadap kode.
Merujuk pada pemikiran-pemikiran tentang pengertian kesalahan berbahasa di atas, maka dapat dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kesalahan berbahasa Indonesia adalah pemakaian bentuk-bentuk tuturan berbagai unit kebahasaan yang meliputi kata, kalimat, paragraph, yang menyimpang dari sistem kaidah Bahasa Indonesia baku.




BAB III
PEMBAHASAN

Salah satu sarana informasi yang berpengaruh besar dalam masyarakat adalah surat kabar. Sebagai sarana informasi, surat kabar dalam misinya menggunakan ragam bahasa tulis. Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, surat kabar merupakan salah satu sarana informasi yang mempunyai pengaruh besar bagi masyarakat. Sebagai sarana informasi, surat kabar menggunakan ragam bahasa tulis. Dibandingkan dengan ragam bahasa lisan, pemakaian ragam bahasa tulis harus lebih cermat. Kecermatan yang dimaksud meliputi: kaidah tata tulis atau ejaan, kaidah pemilihan kata atau diksi, dan kaidah struktur kalimat. Walaupun diakui bahwa ragam bahasa tulis pada surat kabar memiliki sifat yang khas, yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, dan menarik, namun demikian harus pula mengindahkan kaidah gramatikal bahasa Indonesia.
Sebagai salah satu media cetak yang paling produktif menggunakan ragam bahasa tulis, sasaran informasi yang disampaikan melalui surat kabar adalah pembaca dari seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, perlu diperhatikan pemakaian Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Baik dalam arti sesuai dengan situasi dan kondisi pemakaiannya, sedangkan benar dalam arti sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku.
Instruksi untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar pada media massa telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang bendera, bahasa, dan lambang negara serta lagu kebangsaan. Secara tegas dinyatakan bahwa bahasa Indonesia wajib digunakan dalam informasi di media massa, sebagaimana tertuang di dalam ketentuan pasal 25 ayat (3) dan pasal 39 ayat (1) berikut :
Pasal 25
Ayat (3) Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, pengantar pendidikan, komunikasi tingkat nasional, pengembangan kebudayaan nasional, transaksi dan dokumentasi niaga, serta sarana pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan bahasa media massa.


Pasal 39
Ayat (1) Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam informasi melalui media massa.

Namun demikian, adanya Undang-Undang tersebut masih belum cukup signifikan untuk meredam kebebasan dan keterbukaan sebagai gaung dari proses reformasi yang telah berjalan sejak tahun 1998 lalu. Konsep keterbukaan dan kebebasan pers yang bertanggung jawab dalam perjalanannya lebih terkesan berkembang pada kebebasannya saja. Akibatnya kemurnian penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam setiap informasi pada media masa, khususnya surat kabar menjadi sulit terwujud.
Berdasarkan hasil analisis/studi pengamatan kami pada dua surat kabar terkemuka nasional, yaitu harian Pikiran Rakyat dan Kompas setidaknya terdapat empat kesalahan utama pemakaian bahasa Indonesia pada sejumlah tulisan dalam surat kabar tersebut, yaitu (1) Penggunaan istilah asing tanpa memperhatikan kaidah penggunaan dan penyerapan unsur asing dalam aturan bahasa Indonesia, (2) kesalahan penempatan konjungsi, (3) kesalahan tanda baca, dan (4) kesalahan penggunaan pemilihan kata (diksi).
1. Penggunaan istilah asing tanpa memperhatikan kaidah penggunaan dan penyerapan unsur asing dalam aturan bahasa Indonesia
Masyarakat Indonesia telah terjadi berbagai perubahan terutama yang berkaitan dengan tatanan baru kehidupan dunia dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi, khususnya teknologi informasi, yang semakin sarat dengan tuntutan dan tantangan globalisasi. Kondisi itu telah menempatkan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, pada posisi yang strategis yang memungkinkan bahasa itu memasuki berbagai sendi kehidupan bangsa dan mempengaruhi perkembangan bahasa Indonesia. Kondisi itu telah membawa perubahan perilaku masyarakat Indonesia dalam bertindak dan berbahasa. Gejala munculnya penggunaan bahasa asing di pertemuan-pertemuan resmi, di media elektronik, dan di tempat-tempat umum menunjukkan perubahan perilaku masyarakat tersebut. Seperti halnya pada surat kabar Pikiran Rakyat dan Kompas. Dalam kedua surat kabar ini terdapat beberapa kata asing yang digunakan. Namun kata asing tersebut digunakan tanpa memperhatikan kaidah penggunaan dan penyerapan unsur asing yang diatur dalam gramatikal Bahasa Indonesia.

Contoh :
Game, enjoy, kickoff, complex training, fix, recovery... (Pikiran Rakyat, 27 september 2011)
Voting, spirit, suporter, fans ... (Kompas, 27 september 2011)
Penggunaan istilah asing dengan mengadopsi secara langsung hanya diperbolehkan jika istilah tersebut memang sama sekali belum ada padanan katanya dalam Bahasa Indonesia. Adapun adopsi kata secara tidak langsung dilakukan dengan memperhatikan kaidah penyerapan unsur asing yang diatur dalam gramatikal Bahasa Indonesia.
Istilah game, enjoy, kickoff, complex, fix, recovery, voting, spirit, suporter, fans telah memiliki padanan kata dalam Bahasa Indonesia yaitu secara berturut-turut adalah permainan, menikmati, pembukaan, latihan campuran, menetapkan, penguasaan kembali, pemungutan suara, semangat, pendukung, penggemar.
Contoh kutipan pada harian Pikiran Rakyat:
• meskipun begitu, dia menjelaskan, pekan depan ia berencana kembali melakukan game internal.
• Sihar juga memastikan bahwa kickoff tetap harus dilakukan sebelum batas akhir yang diberikan AFC, yaitu 14 Oktober mendatang.
• kami memang sudah fix untuk penggunaan lapangan, tetapi ...
Contoh kutipan pada harian Kompas:
• sebelum disetujui lewat voting anggota klub ...
• hal yang melecut spirit juang tim berjuluk “FC Hollywood” itu tak lain karena ...
• ... kemenangan di kandang lawan yang bakal didukung suporter setempat.
• itulah yang memantik kemarahan sebagai fans Barcelona.

2. Kesalahan penempatan konjungsi
Konjungsi (KBBI) adalah partikel yg menggabungkan kalimat.
Pada harian Pikiran Rakyat terdapat partikel dan yang ditempatkan pada awal kalimat, sedangkan dan seharusnya tidak diletakan di awal kalimat karena dan merupakan penghubung antar klausa.
Contoh kutipannya:
Dalam skala angka, sepuluh adalah simbol kesempurnaan. Dan, kesempurnaan itu pula yang kini tangah dikejar Bayern Munich yang sudah mencatat sembilan kemenangan beruntun musim ini ...
3. Kesalahan tanda baca
Pemakaian tanda baca dalam ejaan bahasa Indonesa, yang tercantum dalam buku Ejaan Yang Disempurnakan, mencakup pengaturan (1) tanda titik, (2) tanda koma, (3) tanda titik koma, (4) tanda titik dua, (5) tanda hubung, (6) tanda pisah, (7) tanda elipsis, (8) tanda tanya, (9) tanda seru, (10) tanda kurung, (11) tanda kurung siku, (12) tanda petik, (13) tanda petik tunggal, (14) tanda ulang, (15) tanda garis miring, dan (16) apostrof.
Kesalahan pemakaian tanda baca terletak pada surat kabar Pikiran Rakyat. Kesalahan itu pada kalimat: Apalagi, menurut Drago, musim kompetisi nanti pemainnya dipastikan menemui banyak pertandingan yang berat dan jadwal yang pasti padat sehingga, menurut dia, kondisi pemain harus mendapat perhatian ekstra.
Seharusnya:
Apalagi, menurut Drago, musim kompetisi nanti pemainnya dipastikan menemui banyak pertandingan yang berat dan jadwal yang pasti padat. Sehingga, menurut dia, kondisi pemain harus mendapat perhatian ekstra.

4. Kesalahan penggunaan pemilihan kata (Diksi)
Kesalahan yang terjadi adalah pemilihan kata yang digunakan meski terdengar kurang tepat, namun dipaksakan muncul sebagai “bumbu” untuk membuat tulisan menjadi lebih menarik dibaca.
Contoh:
Itulah yang memantik kemarahan sebagai fans Barcelona (Kompas, 27 September 2011)
Kata yang dicetak miring dan dipertebal diatas terkesan kurang tepat, meskipun kata memantik masuk dalam kosa kata Bahasa Indonesia baku, namun lebih berasosiasi pada hal yang berhubungan dengan suatu perbuatan menggosokan batu untuk membuat api. Namun, menurut pendapat penyusun kata memantik sebaiknya tidak perlu muncul, mungkin lebih baik jika tetap digunakan kata menyulut. Karena kata menyulut lebih di kenal oleh masyarakat.



BAB IV
PENUTUP

4.1 Simpulan
Berdasarkan hasil analisis/studi pengamatan pada dua surat kabar terkemuka nasional, yaitu harian Kompas dan Pikiran Rakyat setidaknya terdapat empat kesalahan utama pemakaian Bahasa Indonesia pada sejumlah tulisan dalam surat kabar, yaitu : (1) Penggunaan istilah asing tanpa memperhatikan kaidah penggunaan dan penyerapan unsur asing dalam aturan Bahasa Indonesia, (2) Kesalahan penempatan konjungsi, (3) Kesalalahan tanda baca, dan (4) Kesalahan penggunaan pemilihan kata (diksi).
Kemunculan kesalahan-kesalahan pemakaian Bahasa Indonesia dalam media surat kabar bukanlah sesuatu yang bersifat tidak disengaja. Pihak media bukannya tidak mengerti aturan atau tata cara berbahasa Indonesia yang baik dan benar, namun hal ini semata-mata dilakukan sebagai sarana untuk menciptakan daya tarik tulisan, sehingga terdapat motivasi yang kuat bagi pembaca untuk membacanya hingga tuntas. Keterbatasan kolom dalam media surat kabar juga bisa dijadikan alasan pihak media massa melakukan hal seperti itu.

4.2 Saran
Kesalahan-kesalahan pemakaian Bahasa Indonesia dalam media surat kabar harus ditindaklanjuti untuk segera dilakukan pembenahan. Penanganan yang setengah-setengah atau tidak secara tuntas akan berakibat pada semakin rusaknya tatanan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, mengingat kesalahan-kesalahan tersebut lama-kelamaan akan menjadi sesuatu yang dapat diterima dan akhirnya dianggap sebagai hal yang biasa oleh masyarakat. Oleh karena itu harus ada kontrol yang kuat dari pemerintah, lembaga pers, maupun masyarakat sehingga upaya untuk mewujudkan peran surat kabar sebagai salah satu guru Bahasa Indonesia yang baik dan benar bagi masyarakat akan dapat terwujud.
Editor hendaknya lebih teliti untuk melihat pengunaan Bahasa Indonesia dalam media massa, baik itu dalam kesalahan morfolofis (tata bentuk kata), sintaksis (tata kalimat), kesalahan penyerapan, kesalahan ejaan, maupun kesalahan penggunaan tanda baca.

DAFTAR ACUAN

Anshori, S Dadang. Hegemoni dan Dominasi Bahasa Pejabat dalam Media Massa Pasca Orde Baru: Analisis Wacana Kritis tentang Idiom Politik di Indonesia.
Anshori, S Dadang. Tindak Tutur Ilokusi Politisi DPR .
Bharata, RM, dkk. 1993. Kamus Lengkap 3.500.000. Surabaya: Karya Ilmu.
Damaianti, Vismaia S, dan Sitaresmi Nunung. 2005. Sintaksis Bahasa Indonesia. Bandung: Pusat studi Literasi.
Halim, Amran. 1984. Politik Bahasa Nasional 1. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Sugono, Dendy. 2009. Buku Praktis Bahasa Indonesia 2. Jakarta: Pusat Bahasa.
Tim Penyusun. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 Tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, Serta Lagu Kebangsaan.
________. 2008. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Bandung: Yrama Widya
http://bahasadansastraindonesia-jumaidi.blogspot.com/2011/07/analisis-kesalahan-pemakaian-bahasa.html [29 september 2011]
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/02/09/136528/Salah-Kaprah-dalam-Bahasa-Pers [29 september 2011]














LAMPIRAN

Daftar Pertanyaan dan Jawaban Hasil Diskusi
1. Nur Apriyani
Apa penyebab penggunaan istilah asing pada surat kabar?
Jawab: Penggunaan istilah asing pada surat kabar biasanya digunakan untuk memperjelas suatu arti, atau untuk menambah kesan lebih dalam dari sebuah kalimat yang dipaparkan, dan biasanya untuk menarik pembaca agar mereka membacanya sampai selesai.
2. Nurul Hikmah
Apa pendapat kalian tentang kesalahan bahasa yang sering terjadi? Bagaimana cara meminimalisir kesalahan-kesalahan tersebut?
Jawab: kesalahan bahasa hendaknya bisa diminimalisir. Jika terus-terusan terjadi, akan berakibat lebih buruk lagi. Hal yang bisa dipertimbangkan untuk meningkatkan kualitas bahasa jurnalisti misalnya dengan:
• Penyesuaian gaya bahasa khas institusi pers sesuai dengan aturan yang berlaku. Artinya institusi penerbitan pers dituntut beradaptasi atas tata baku aturan kebahasaan yang berlaku.
• Perlunya pembinaan kontinu dan dinamis bagi pekerja pers terutama pihak yang langsung bersentuhan dengan pemproduksian berita, seperti wartawan, redaktur dan editor. Semakin mereka menguasai pengguanaan bahasa pers yang baik dan benar, maka semakin kecil pula tingkat kekeliruan perihal kebahasaan hasil karya jurnalistik yang diproduksi.
• Perlunya pengkajian secara kontinu pengguanaan bahasa jurnalistik yang baik dan benar sesuai dengan arus perkembangan zaman, terutama oleh konstitusi yang berkompeten seperti Depkominfo, Dewan Pers Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan lainnya.
• Perlunya pertisipasi aktif dari masyarakat dalam memberikan masukan konstruktif bagi pengembangan dan pengguanaan bahasa jurnalistik yang baik dan benar.
• Perlunya penegakan aturan yang jelas dan tegas atas pelanggaran yang dilakukan oleh institusi pers dan sebaginya.

3. Satria Setiawan
Apa manfaat media massa sekait dengan pembinaan dan pengembangan bahasa?
Manfaat media massa sekait dengan pembinaan dan pengembangan bahasa adalah:
• media massa mutlak dipergunakan untuk menangkal informasi yang menggunakan kata dan istilah yang menyalahi kaidah kebahasaan. Kalangan media massa harus diyakinkan bahwa mereka juga pembinaan bahasa seperti kita.
• Media massa dapat menggali dan menyebarluaskan bahasa dari bahasa daerah. Sehingga penggalian bahasa daerah kedalam bahasa indonesia itu akan memperkaya kosa kata bahasa asing selama pengungkapan bahasa daerah tersebut belum terdapat dalam kosa kata Bahas Indonesia. Pengambilan kosa kata bahasa daerah tersebut aka memperkaya Bahasa Indonesia.
• Media massa menggunakan Bahasa Indonesia sebagai sarana untuk menyampaikan berita, informasi, iklan, opini dan artikel kemasyarakat pembaca. Secara tidak langsung, media massa merupakan media pendidikan bagi warga masyarakat dalam Berbahasa Indonesia .
• Media memainkan peran dalam mencerdaskan kehidupan Bangsa Indonesia khususnya dalam kegiatan berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar